Menghadapi Revolusi Industri 4.0, Perkumpulan Ilmuwan dan Pakar Berkumpul di Sabang

Aceh Global Conference 2019. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH - Dunia terus mengalami kemajuan dan perkembangannya, tanpa pernah berhenti sejenakpun. Hampir setiap hari penemuan terbaru mengantikan teknologi lama. Peningkatan pesat ini semakin terasa dalam dua dekade terakhir. Dan yang terbaru dunia sibuk dalam menyambut era baru yang sering disebut sebagai "Revolusi Industri 4.0"

Revolusi industri adalah sebuah proses perubahan besar secara radikal dan fundamental terhadap cara manusia memproduksi barang dan pengaruhnya terhadap masyarakat dunia setelah itu. Perubahan besar ini telah berkembang dalam tiga kali tahapan, hingga saat ini kita tengah menghadapi revolusi industri tahap baru. Tentunya revolusi ini tidak hanya merubah sistem produksi semata, namun juga diikuti oleh perubahan besar dalam bidang ekonomi, politik, bahkan militer dan budaya. Sudah pasti ada jutaan pekerjaan lama menghilang, dan jutaan pekerjaan baru muncul. Secara lebih luas, Revolusi Industri 4.0 terkait dengan terjadi penurunan dan kelangkaan sumber daya manusia, dan teknologi yang akan mengambil peran penuh dalam peradaban manusia.

Oleh karena itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala (FISIP Unsyiah) mempunyai inisiatif untuk memasukkan permasalahan ini sebagai tema dalam Aceh Global Conference on Social, Communication, Government and Political Sciences (AGC SCOPOS), sebuah gelaran perkumpulan akademisi dan pakar yang menjadi agenda rutin dari FISIP Unsyiah. Hal tersebut sesuai dengan visi Universitas Syiah Kuala seperti yang disampaikan oleh Rektor Prof. Dr. H. Samsul Rizal, M.Eng pada acara wisuda Unsyiah beberapa waktu lalu, “Era ini akan bertumpu pada teknologi robotic, internet of thing, serta kecerdasan buatan (artificial intelligence), sehingga ratusan lapangan pekerjaan akan hilang atau minimal berkurang,”

Kemudian Samsul Rizal menambahkan kemajuan teknologi tersebut jangan ditanggapi negatif, tapi harus dimanfaatkan dengan sebaiknya, “Hal ini memberi kita kesempatan untuk mengakses pasar di seluruh dunia, tanpa batasan negara. Maka kami berharap lulusan Unsyiah mampu membuka mata dan pikirannya, dengan wawasan yang telah didapatkan selama pendidikan, untuk berkreasi dan berinovasi”

Dekan FISIP Unsyiah, Dr. Mahdi Syahbandir, S.H., M.H. beserta Ketua Panitia AGC sekaligus Wakil Dekan Bidang Akademik, Dr. Effendi Hasan, M.A. memberi catatan khusus kepada The 2nd Aceh Global Conference 2019 dengan mengangkat tema “The 4th Industrial Revolution Challenges and Issues on Social, Communication, Political and Governmental Aspects: Are We Prepared?”

"Perkembangan dan kemajuan zaman tidak bisa dilawan, harus dihadapi dengan persiapan dan strategi. Dalam forum ilmiah ini kita berharap para peserta peneliti dan pakar dapat memberikan kita solusi serta alternatif. Sehingga dunia akademis selalu dapat berkontribusi nyata dalam kehidupan masyarakat luas" tegas Mahdi Syahbandir, dalam siaran pers yang diterima acehonline.co, Sabtu (28/9/2019).

The 2nd AGC-SCOPOS 2019 yang berlangsung tanggal 25-26 September mendatang di Pulau Sabang. Konferensi ini menghadirkan keynote speaker dari berbagai negara, antara lain, Assoc. Prof. Dr. Owen Podger (Universitas of Canberra, Australia), Dr. Siti Suraini Othman (Universitas Sains Islam Malaysia), Assoc Prof. Dr. AKM Ahsan Ullah (Brunei Darussalam), dan Prof. Dr. Sukree Langputeh (International Relation Fatoni University, Thailand), dan dari dalam negeri hadir Prof. Dr. Firman Noor, M.A Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI, serta 100 peneliti dari seluruh Indonesia, termasuk peneliti dari Universitas Syiah Kuala dan Universitas lainya di Aceh

Pemilihan Pulau Sabang sebagai lokasi tuan rumah konferensi kali ini, punya pertimbangan filosofis tersendiri. Sesuai dengan pernyataan Ketua AGC SCOPOS Effendi Hasan, menunjukkan dukungan dan komitmen FISIP Unsyiah terhadap dunia pariwisata Aceh dan pengembangan potensi Kawasan Sabang. "Konferensi internasional ini merupakan kegiatan tahunan yang menjadi agenda penting FISIP Unsyiah sebagai mercusuar peradaban masyarakat. Selain menjadi bagian komitmen kampus dalam kontribusi nyata untuk masyarakat, kegiatan ini juga menjadi sumbangsih keilmuan dari para peneliti yang hadir untuk Aceh, Indonesia dan Dunia" ujarnya.

Acara pembukaan AGC SCOPOS 2019 dibuka pada pagi Rabu 25 September bertempat di Aula Walikota Sabang, oleh Staff Ahli Muslimahyudin mewakili Walikota Sabanh dan Wakil Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir Marwan. Acara ini juga bisa terselenggara dengan baik karena dukungan sponsor seperti, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS), Pemerintah Kota Sabang, dan Bank Aceh.

Harapan yang lazim bagi setiap ajang musyarawah para pakar, output dan outcome yang dihasilkan adalah paparan hasil kajian dan penelitian dari berbagai isu dan tema oleh para akademisi dan profesional yang berkumpul dalam acara conference AGC-SCOPOS Ke-2. Keseluruhan hasil buah pikir para peneliti tersebut setelah melalui proses review yang ketat, paper yang terpilih dan layak akan dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi yang di index oleh Scopus dan Thomson Reuter.

Sekedar diketahui, konferensi internasional AGC SCOPOS 2019 sudah dimulai dengungnya melalui diperkenalkannya kepada publik dalam acara soft launching halaman web officialnya http://conference.unsyiah.ac.id/agc-scopos/scopos-2019 pada Selasa, (21/5) beberapa bulan lalu. []

Komentar

Loading...