Murtini, Meraba Pemenuhan Hak Difabel di Indonesia

Hj Murtini. [Foto: Istimewa]

BANDA ACEH – Sekitar pukul 15.00 Wib, Hj Murtini tiba di Setda Aceh. Kedatangannya disambut oleh Rahmat Raden, Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, di ruang kerjanya. Dipapah oleh salah seorang staff dari Kantor PLN Aceh, mantan dosen Universitas Negeri Jakarta yang mengalami kebutaan permanen pasca mengalami kecelakaan tahun 2004 silam itu pun memperkenalkan diri.

“Mohon maaf ibu, berhubung Bapak Gubernur sedang berada di Kota Medan, jadi kedatangan Ibu saya yang terima, kami harap Ibu tidak kecewa,” ujar Rahmat Raden, saat menerima kunjungan Murtini.

Murtini mengaku bahagia dan senang dengan keramahan Rahmat Raden. Dengan kondisinya saat ini, Murtini mengakui tidak semua pejabat mau menerima dirinya. Bahkan dibeberapa kantor Murtini sempat dianggap pengemis, padahal dirinya hanya meminta tandatangan pimpinan dan stempel saja, sebagai bukti bahwa dirinya telah mengunjungi kantor tersebut.

“Ada pengalaman yang membuat marah dan kesal tapi ada juga pengalaman yang membuat saya bahagia, ya seperti pertemuan dengan Karo Humas tadi, saya sangat senang diterima dengan begitu ramah. Tapi itulah potret Indonesia, bahwa masih ada pihak yang memandang kaum difabel dengan sebelah mata, padahal sebagai rakyat kita memiliki hak yang sama,” ujar Murtini.

Kecelakaan dan Tekat Keliling Indonesia

Kecelakaan di tahun 2004 silam tak memupuskan mimpinya. setelah menjalani serangkaian pengobatan, bahkan hingga ke RS Gleneagles di Singapura, namun istri dari Letjen (Purn) Hadi Dedy Aprianto itu harus menerima kenyataan, bahwa matanya tetap tidak dapat berfungsi kembali.

Karena tidak lagi bisa melihat, Murtini mengajukan pensiun dini dari tempatnya mengajar, di Universitas Negeri Jakarta. Murtini menuturkan, kecelakaan yang dialaminya di tahun 2004, terjadi saat dirinya bersama sejumlah dosen dan mahasiswa melakukan perjalanan ke puncak Bogor, tepatnya di kawasan Ciloto.

“Akibat kecelakaan tersebut, setidaknya 10 orang meninggal dunia, yang lainnya mengalami luka ringan dan berat sedangkan dua orang mengalami cacat tetap termasuk saya,” kenang Murtini.

Tak ingin berpangku tangan dan meratapi nasib, Murtini mulai merenda mimpi baru. Tahun 2014 Murtini memutuskan untuk keliling Indonesia.

Meski sempat dilarang oleh sang suami dan anak-anaknya, namun Murtini telah membulatkan tekat untuk sekali lagi berbakti pada negeri. Murtini ingin keliling Indonesia sembari melihat pelayanan publik dari lembaga negara terhadap rakyatnya, terutama kaum difabel.

“Tidak hanya manusia sebagai pribadi, tapi masih ada institusi dan lembaga negara yang abai terhadap pemenuhan hak masyarakat, terutama kaum difabel,” ujar anak pertama dari Menteri Dalam Negeri RI era Presiden Soeharto, yaitu Kabinet Pembangunan IV, Soepardjo Rustam

Murtini menjelaskan, berbagai pengalamannya selama melakukan perjalanan keliling Indonesia ini akan dibukukan. “Catatan perjalanan ini akan saya bukukan. Isinya tentu saja terkait dengan pelayanan aparatur dan institusi negara terhadap difabel,” kata Murtini.

Ibu dari 6 orang anak ini menuturkan, saat ini, anak-anaknya sudah tumbuh besar. Beberapa anaknya mengikuti jejak sang ayah dan kakeknya, yaitu menjadi tentara. “Anak saya yang pertama tentara, yang kedua polisi, yang ketiga TNI Angkatan Laut, yang keempat Camat, yang kelima Dokter ahli saraf dan yang terakhir Taruni TNI.”

Murtini memulai perjalanan keliling Indonesia dari Merauke sejak tahun 2014. Kini, ia masih safari keliling Aceh. “Baru 6 kabupaten kota yang saya kunjingi di Aceh, Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen. Masih ada beberapa kota lagi. Tapi yang terdekat saya ingin menjejakkan kaki di kilometer nol Indonesia, Sabang,” kata Murtini.

Usai berkunjung ke Kantor Gubernur, Murtini melanjutkan kunjungannya ke sejumlah institusi dan lembaga. Tujuannya hanya satu, meminta tanda tangan pimpinan dan stempel. Murtini selalu menenteng tas hitam yang sudah cukup berat. Tas itu berisi surat pernyataan dari berbagai institusi dan lembaga yang telah ia kunjungi di seluruh Indonesia. []

Komentar

Loading...