Sabang “The Little Iwo Jima”

Bunker pertahanan serangan laut di Sabang yang dibangun tahun 1942 saat Jepang menduduki Sumatera. [Foto: Indonesia Kaya]

Oleh: Ridhalul Ikhsan

Kekuasaan Belanda di Indonesia berakhir tahun 1942 saat masuknya bala tentara Jepang akibat meletusnya perang Timur raya tahun 1942 yang mengakibatkan runtuhnya negara-negara super power dalam istilah disebut “ABCD”, yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris (British), China dan Belanda (Dutch). Semua negara ini lumpuh total dalam waktu yang singkat serta seluruh kawasan Asia Timur, Asia Tenggara dan Samudera Pasifik tenggelam dalam lautan api. Disaat itulah angkatan perang Jepang dapat merebut seluruh dan menduduki hampir seluruh wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara termasuk Indonesia dan khususnya Sabang yang cukup lama dikuasai Belanda.

Pada tanggal 8 Maret 1942, Jenderal H. Ter Pooter selaku Panglima Angkatan perang Hindia Belanda dan atas nama angkatan perang sekutu di Indonesia mengumumkan “Pernyataan Menyerah Tanpa Syarat” kepada angkatan perang Jepang, yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Hitoshi Imamura. Penyerahan tentara Belanda kepada Jepang berlangsung di Kalijati, Jawa Barat, yang dihadiri oleh Gubernur Jenderal Belanda, Tjarda Van Starkenborgh Stochouwer. Maka pada hari itu berakhirlah hegemoni Belanda di Indonesia, digantikan oleh Jepang.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada awal pendudukan, jepang disambut dengan sangat baik oleh masyarakat indonesia, karena merasa sudah lepas dari penjajahan Belanda. Namun kenyataannya, penindasan Jepang jauh lebih kejam dari Belanda. Tak, terkecuali dengan keberadaan Jepang di Kota Sabang yang mulai menginjakkan kaki di Sabang pada 31 Maret 1942.

Tahun 1942, Sabang dijadikan sebagai basis pertahanan maritim Jepang untuk mengantisipasi serangan pasukan sekutu, termasuk keberadaan lapangan udara yang dibangun tahun 1939 oleh Belanda di Gampong Cot Bak U. Jepang juga membuat benteng-benteng pertahanan bawah tanah yang dilengkapi dengan lorong-lorong penghubung (orang aceh menyebutnya kurok-kurok), tempat-tempat pengintaian, rumah sakit bawah tanah dihutan tanjakan Cot Bak U, penjara, dan fasilitas persenjataan seperti meriam ukuran sedang dan besar, yang mempekerjakan para Romusha (pekerja paksa). Awalnya tugas ini bersifat sukarela, tetapi kemudian berubah menjadi kerja paksa. Para Romusha ini didatangkan dari berbagai wilayah di Indonesia.

Ketenangan Jepang di Sabang tidak berlangsung lama. Setidaknya terdapat dua kali serangan sekutu dalam skala besar yang diarahkan tepat ke jantung Kota Sabang.

Pada awal April 1944 Laksamana Ernest King (kepala operasi AL AS) menemui Laksamana James Somerville (komandan Armada Timur AL Inggris). Ernest meminta Somerville untuk merancang sebuah operasi pengalihan agar operasi utamanya ke Jayapura tak terusik. Operasi pengalihan ini dikenal dengan sandi Operation Cockpit, berfungsi untuk menahan pasukan Jepang di sekitar Selat Malaka agar tak bergerak ke timur. Sasaran operasi adalah pelabuhan dan fasilitas perminyakan Jepang di Pulau Sabang.

Armada ini bergerak dari Trincomalee di utara Sri Lanka pada 16 April. Posisi terbang 180 mil laut barat daya, Sabang dicapai pada pukul 05.30 waktu setempat pada 19 April 1944.

Pelaksanaan operasi dijalankan oleh dua satuan tempur: Force 69 -flagship dan Force 70 -- kapal induk – HMS Illustrious dan USS Saratoga. Walau menghadapi cuaca buruk, kedua kapal induk Sekutu tetap meluncurkan 46 pesawat pembom dan 37 pesawat tempur dan berhasil melumpuhkan fasilitas-fasilitas vital Sabang.

Selain itu, Operation Cockpit juga memakan korban satu kapal niaga tenggelam dan satu kapal lain rusak berat, dua kapal destroyer dan dua kapal pengawal AL Jepang terbakar. Tiga pesawat tempur dan tiga pesawat torpedo AL Jepang ikut jadi korban ketika mencoba memberi perlawanan.

Ridhalul Ikhsan. [Foto: Istimewa]
Berselang tiga bulan setelahnya, pada tanggal 25 Juli 1944, Inggris yang berbasis di Srilangka (Ceylon), kembali menyerang kedudukan jepang di Sabang dengan kekuatan 4 buah kapal tempur (Slagschenpen), 2 buah kapal induk (Vliegkampschepen), 7 buah kapal penjelajah (Kruisers) dan 10 buah kapal pemburu terpedo (Terpedoboot jagers). Armada Inggris berlabuh 9 mil dari pantai Sabang, menggunakan 3 buah pesawat pemburu yang dilengkapi dengan Bom, dengan sasaran pengeboman seluruh instalasi militer, tangki minyak, gudang-gudang amunisi dan perbekalan, termasuk benteng-benteng pertahanan.

Efek serangan tersebut, pasukan Jepang di Sabang porak-poranda dan menderita kerugian yang cukup besar, banyak di antara mereka yang menyerah dan banyak pula yang bunuh diri atau Harakiri. Teluk Sabang yang ditumpahi dengan minyak dari tangki yang terkena serangan dipelabuhan terbakar dan menyala selama satu minggu hingga kemudian padam dengan sendirinya.

Jepang akhirnya menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945, setelah sekutu menjatuhkan bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Kemudian rakyat Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

The Little Iwo Jima

Selama ini, Sabang masyhur akan deretan pantai berpasir putih nan indah. Tak banyak yang tahu bahwa daerah yang terletak di Pulau Sabang-Aceh ini juga memiliki ribuan benteng atau bungker peninggalan Angkatan Laut Jepang yang sebagian di antaranya masih berdiri kokoh. Julukan Kota Seribu Benteng pun tersemat pada titik paling utara Indonesia ini.

Semasa pemerintahan Hindia Belanda, Sabang dijadikan sebagai kota pelabuhan dan titik utama penyimpanan minyak untuk kapal laut. Sejak 14 Juli 1942, Sabang menjadi markas Angkatan ke-9 Armada Expeditionary 1 Angkatan Laut Jepang.

Diperkirakan terdapat lebih dari 1.000 bungker yang tersebar di seluruh Pulau Sabang. Selama ini baru sekitar 250 benteng yang sudah diketahui. Bungker - bungker tersebut diduga saling terkoneksi satu sama lain dalam berbagai ukuran. Bila kita mengunjungi sabang, maka kita dapat dengan mudah menemui beberapa titik lokasi bungker, diantaranya terdapat di; Sabang Hill, Bate Shok, Gunung Labu, Aneuk Lot, Tapak Gajah, Gunung Sarung Keris. Pantai Anoi Hitam dan Ujung Karang.

Bungker di pulau Sabang memiliki karakteristik yang sama seperti yang terdapat di pulau Iwo Jima-Jepang. Memiliki kedalaman lima meter di bawah permukaan tanah dan terhubung ke pusat komando. Pulau yang terletak ±650 mil laut (1200 km) selatan Tokyo ini juga terkenal sebagai tempat terjadinya pertempuran pada bulan Februari dan Maret 1945 antara Jepang dan Amerika Serikat sewaktu Perang Dunia II.

Untuk menemukan persamaan pulau Sabang dan Iwo Jima, kita dapat mengunjungi pulau Sabang secara langsung, sembari menonton film yang berjudul Letters from Iwo Jima yang diangkat dari sudut pandang Jepang dan Flags of Our Fathers dari sudut pandang Amerika. Kedua film drama perang sejarah tersebut diproduksi pada tahun 2006 yang disutradarai oleh Clint Eastwood. Diangkat berdasarkan buku bergambar Picture Letters from Commander in Chief karya Tadamichi Kuribayashi. []

Penulis Seorang Overlander dan Travel Writer

Komentar

Loading...